“KEMILAU SENJA DI PULAU
DEWATA”
Karya : Shiva Khoirun Nisa (27 / X - 2)
Karya : Shiva Khoirun Nisa (27 / X - 2)
Senja
bergulir pelan kembali ke peraduannya, kemilau jingga menghiasi langit Kota
Denpasar sore itu. Langkahku terbawa ke bibir pantai nan luas, air laut
berwarna kekuningan diterpa sinar mentari, hari mulai gelap satu persatu orang
pergi meninggalkan kesunyian pantai yang tenang ini. Seperti hari yang lalu,
aku akan berada di sini menikmati senja dikala hati sedang bergelayut gundah.
Laut adalah tempatku bercerita segala keluh dan kesah yang menimpaku. Deburan
ombak dan semerbak harum bunga kamboja menenangkan pikiranku, angin sore kian
terasa sampai ke tulangku. Padahal mentari senja masih setia memberi sinarnya
yang terlihat tegas hingga lurus di kaki bumi. Dengan langkah gontai akupun
beranjak meninggalkan laut dan senja yang begitu sempurna.
Kusadari
hari telah gelap saat aku ingin pulang dan kembali ke rumah, ingin rasanya
cepat pulang dan merebahkan badanku yang sedari pagi belum tersentuh halusnya sprai
spongbob kesayanganku. Langkah kaki mulai ku percepat, menembus keramaian malam
di jalan sekitar pantai Kuta. Club, bar,
cafe, resto, toko, distro, dan segala macam aneka berada di sana.
“Taxi.......”
tanganku melambaikan tangan ke arah taxi yang lewat pelan.
“Perumahan
Griya Sentosa Blok II pak” kataku menunjukkan arah tujun kepada pak sopir.
Alasanku sudah jelas, aku sangat risih melihat situasi yang mungkin bagiku
masih asing, aku juga risih menjadi objek pandangan mata saat aku berjalan
menyusuri bahu jalan. Entah apa yang dipikirkan orang – orang itu.
Sekitar
30 menit aku sudah sampa di depan rumah, “Ini pak, terimakasih” kusodorkan uang
ongkos taxi kepada pak sopir yang sedari tadi mengajakku ngobrol tapi aku tidak
memperhatikannya sama sekali.
“Kembaliannya”
, “Ambil saja pak, anggap saja rejeki dari Tuhan” kataku dengan senyum tipis.
Tok
....tok...tok... “Assalamualaikum, tante Dhuha pulang”
“Waalaikumsalam,
darimana saja. Sejak pagi belum pulang kamu. Makan dimana tadi?”
“Ah,
tante ini. seperti nggak tau saja. Makan ditempat biasa. Tadi ada tambahan di
tempat bimbel. Maaf tidak memberi tahu terlebih dulu”
“Ya
sudah. Cepat mandi lalu makan malam dulu.”
“Iya,tan.
Aku mau mandi belum sholat juga. Tante duluan aja makannya. Nanti aku makan
sendiri aja” cepat – cepat aku menuju kamar mandi dan membasuh badanku. Tak
sampai 15 menit aku sudah keluar dari kamar mandi, badanku terasa sangat segar
dengan air sumur yang sangat jarang digunakan masyarakat apalagi di Kota besar
nan penuh sesak. Hanya tiga rokaat, kutunaikan kewajiban kepada Tuhan sembari
mengucap doa dan harapan.
“Dhuha,
bangun nak! Bangun!” suara tante Ida membuatku kaget dan terbangun.
“Astagfirullah.
Aku ketiduran tan. Sudah jam berapa ini?”
“Iya
kamu ketiduran, masih jam 9 nak, tadi tante tunggu di bawah mau makan malam.
Tapi kamu tidak cepat keluar, tante pikir kamu langsung belajar. Ternyata
ketiduran. Yaudah kamu cepat tidur aja, besok kan sekolah berangkat pagi biar
nggak macet.”
“Iya,
Tan. Terimakasih”
Memang
sudah 2 tahun ini aku mulai beradaptasi dengan lingkungan baru di Kota
Denpasar. Sejak ayahku sakit – sakitan, kedua orang tuaku harus pindah ke
Jakarta untuk mendapat perawatan yang lebih baik. Aku yang benar – benar masih
ingin tinggal di tempat lamaku, harus merelakan dan ikut pindah juga. Tapi aku
memilih untuk tinggal bersama tante Ida di Bali. Aku fikir di sini lebih baik
daripada di Jakarta. Meskipun aku harus menyesuaikan diri lagi, Bali memang
Indonesia dan masyarakat Indonesia penuh toleransi. Meskipun begitu, aku
sebagai remaja muslim yang tunduk kepada aturan agama tetap memegang teguh
untuk tidak melanggarnya. Meskipun di sekolahku hanya aku saja yang berjilbab,
karena mayoritas siswanya beragama Hindu. Namun aku berusaha menyingkirkan
perasaan malu jauh – jauh dari hatiku.
“Hai.
Dhuha.... selamat pagi? Tumben datangnya agak siang, biasanya pagi sekali” sapa
teman sebngkuku, Kadek Ayu namanya. Dia asli keturunan Bali dan orang tuanya
salah satu teman akrab Pakdhe Darma di Polda Bali. Dia teman pertama saat aku
menginjakkan kaki di Pulau Dewata 2 tahun yang lalu.
“Pagi
juga Ayu... bagaimana tidurmu, nyenyak?”
“Alah...
kamu ini bisa saja. Aku bahkan hanya tidur 4 jam. Gara – gara tugas Kimia dari
ibu guru kita yang sangat killer itu.”
“Hah...
apa? Tugas kimia? Ibu Nyoman? Kok aku nggak tau?” betapa kagetnya aku sampai –
sampai aku berteriak dan seisi ruang kelas memandangiku.
“Husss!!!!
Kamu ini ya. Emang kebiasaan. Pasti kemarin kamu pulang sore dan kamu lupa
tugas.” , “Hehehe... ya begitulah.” Jawabku sambil cengengesan.
Hari
itu benar – benar membuatku gerah, cuaca yang panas ditambah lagi jam pertama
harus ada tugas Kimia.
“Dhuha.
Keluar dari kelas dan bersihkan meja guru ibu di ruang guru. 1 jam harus sudah
kembali” teriakan ibu Nyoman benar – benar membuatku takut.
“Ba....baik
bu. Akan saya lakukan” jawabku terbata karna aku sangat takut dan gugup.
Akupun
segera berlari dan menuju ruang guru, segera kubersihkan meja ibu Nyoman, tak
sampai 1 jam aku sudah kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran lagi.
Tok.....tokk....tookkk....
pintu kelas diketuk oleh ibu guru BK beliau masuk bersama seorang anak laki –
laki. Dia memiliki postur tubuh yang tinggi, kulitnya putih langsat, matanya
bulat dengan bola mata berwarna hhitam kecoklatan khas Indonesia. Sudah aku
tebak, dia pasti pindahan sama sepertiku. Dan benar saja, namanya Dwikia Rama Pangestu
pindahan dari Jogja. “Horre, ada teman dari Jawa akhirnya.” Batinku berteriak
gembira, dia duduk di bangku belakangku.
Pelajaran hari ini telah
usai, sampai jumpa lagi besok dengan semangat yang baru.
Bel
pulang sudah berbunyi, murid – murid bergegas meninggalkan kelas.
“Yess....
go home!! Aku duluan ya jilbab cantik. Telpon aku kalau butuh sesuatu.”
Lambaian tangan Ayu harus membuatku sendiri lagi. Tuuut....tuuut....
“Assalamualaikum. Sudah pulang Dhuha?” suara tante Ida dari seberang jauh sana
terdengar samar – samar di telpon karena suasana di depan sekolah sangat ramai.
“Iya tan. Aku sudah pulang hari ini tidak ada jadwal bimbel. Tante bisa jemput
sekarang?” jawabku sedikit berteriak supaya tante Ida mendengarnya. “OK! 45
menit lagi ya. Sabar.” “Iya tan. Nggak papa, Dhuha tunggu di halte depan
sekolah. Assalamualaikum.”
Walaupun
sudah jam 15.30 dan udara di Denpasar masih tetap panas. Seakan mentari marah
dan mencurahkan semua sinarnya untuk manusia. Koran yang ku pegang semakin lama
semakin lusuh karena kukibaskan untuk kipas, tiba – tiba seseorang duduk
disampingku menyodorkan segelas es teh.
“Hai.
Kamu Dhuha kan. Kelas 12 Ipa 2” sapanya seperti dia sudah mengenalku.
“Ah,
iya. Kamu Rama anak baru dari Jogja” jawabku dengan spontan.
“Yap,
betul sekali. Ini es teh buat kamu cuaca sangat panas sepertinya minum yang
dingin lebih enak.” Tangannya yang terlihat halus seperti jarang melakukan
pekerjaan kasar menyodorkan segelas minuman di depanku.
“Maaf,
aku puasa.”,jawabku. “Ah, ya Tuhan. Aku tidak tau, maaf Ha.”, “Iya nggak papa”
“Aku
juga dari Jawa. Malang tepatnya, aku pindah ke sini 2 tahun yang lalu.” Aku
mulai membuka pembicaraan dengannya.
“Wah,
kita sama – sama dari jawa merantau ke Pulau tetangga yang kata orang bisa
menikmati keindahan alamnya nan eksotik dan bule – bule yang aduhai...”
“Huft...
kamu. Iya benar bali memang indah. Apalagi senjanya. Sangat – sangat menawan
dan mempesona, tak ada duanya.” Sahutku sembari membayangkan keindahan Bali
yang sudah ku lihat selama ini.
“Hemb...
pasti menyenangkan. Kamu harus menjadi temanku dan mengajakku keliling Bali”
“Baiklah.
Ya sudah aku sudah dijemput, kamu bagaimana? Masih menunggu?”
“Ya,
tak apa. Aku sudah terbiasa menunggu. Da.. hati – hati di jalan Dhuha” lambaian
tangannya mengantarku pulang dan menembus panasnya di jalanan kota Denpasar.
Hari
berganti dan berlalu begitu saja, aku dan Rama semakin dekat sampai kami tahu
pribadi satu sama lain. Meskipun ia baru pindah 7 bulan yang lalu, bahkan
sangat jarang seorang siswa pindah sekolah sat kelas 12 yang jelas – jelas
sudah mendekati UN. Sudah ku tahu Rama pindah ke Bali karena ayahnya seorang
Perwira TNI yang dipindah tugas di Bali. Ia tak ingin menjadi seperti ayahnya,
ia ingin mandiri dan berusaha sendiri. Ia sangat menyukai dunia penerbangan,
namun ia juga dipaksa sang ayah untuk menjadi seorang Prajurit TNI seperti
dirinya. Hal itulah yang membuat Rama dilema dan melampiaskan semua
kekesalannya pada apapun yang menurutnya berguna bagi masa depannya. Rama salah
satu siswa yang pandai di kelasku, nilai – nilainya selalu jauh dari siswa yang
lain. Entah mengapa, ia sangat sabar dan selalu mengajariku hal – hal yang sama
sekali aku tidak menyukainya. Matematika, pelajaran yang penuh deretan angka,
Gitar, piano, drum, apalah itu. Bahkan akupun tidak pernah sekalipun
menyentuhya. Tapi Rama, tangannya begitu mahir memainkan semua alat itu. Menurutnya
ini adalah cara dia mencari kesempatan kesuksesan yang lain.
“Kalau
kamu sangatt ingin menjadi seperti Pakdhemu. Kamu harus menguasai setidaknya
mata pelajaran ini.” sambil menunjukkan buku yang penuh deretan angka ia
memberi tahuku.
“Ah,
kamu Ram. Pasti banyak jalan dan cara. Aku pasti bisa.” Jawabku penuh semangat.
“Oh, ya Ram. Sore nanti kita ke Pantai Arjuna yuk. Di sana senjanya sangat indah.”
“Baiklah.
Nanti jam 4 aku jemput.”
“Yang
benar? Kamu memangnya sudah hafal jalan?” tanyaku penuh curiga.
“Tenang
saja. Aku bukan kamu yang sudah bertahun – tahun tapi masih belum tau jalanan
di Bali” jawabnya meyakinkanku.
“OK!
Deh percaya kok”
Hari
yang ku tunggu pun sudah tiba. Tes akhir penerimaan perwira polisi. Memang dari
kecil aku sangat mengidolakan polisi, dulu saat masih kecil yang ada dalam
benakku adalah aku memakai baju kebesaran berwarna abu – abu kecoklatan dan
berdiri tegap di tengah jalanan yang ramai untuk menyeberangkan anak – anak
TK.
“Tante.
Dhuha minta doanya. Semoga tes terakhir ini berjalan dengan lancar dan aku bisa
lolos” aku meminta doa restu kepada tante Ida yang selama ini sudah ku anggap
sebagai ibuku sendiri. tak lupa aku juga sudah meminta doa restu kepada kedua
orang tuaku. Aku merasa bahagia karena ayah sudah mulai pulih dan kembali ke
rumah.
“Iya
nak. Tante doakan semoga semua lancar. Oh ya. Semalam teman kamu namanya Rama
kemari mencari kamu. Tapi kamu masih ke Polda sama Pakdhe.”
“Ya
Tuhan. Dudha lupa tante. Rama terbang ke Jakarta dia mau daftar di sekolah
penerbangan di Curug.”
“Oh
begitu, tapi Rama menitipkan bingkisan buat kamu. Sebentar tante ambilkan.”
“Ini
nak. Dari Rama.”, sambil memberikan bingkisan kotak besar tante Ida bergegas
kembali ke dapur. “Terimakasih tante. Dhuha jalan dulu”
Taxi
yang sudah ku pesan sejak tadi pagi meluncur menembus kemacetan Jalanan Kota
Denpasar. Sepanjang perjalanan ku pandangi bingkisan kotak besar berwarna
coklat tua pemberian Rama. Aku yang penasaran segera membuka kota itu. Dan
tara...... sebuah miniatur pesawat yang cukup besar. Aku tersenyum sendiri melihat benda itu, di badan pesawat
tersebut tertuliskan namaku Dhuha Air
dan di bagian kepala miniatur pesawat itu bisa dibuka yang ternyata di dalamnya
ada seorang pilot laki – laki dan co-pilot
wanita memakai hijab. Aku kaget dan bertanya – tanya, apa maksud dari ini
semua. “Rama, kamu memang benar – benar penuh kejutan. Terimakasih. Semoga kamu
bisa mengejar mimpimu dengan usahamu sendiri. Kelak nanti jika kita sudah sama
– sama sukses aku harap kita bisa bertemu dan berjabat tangan dengan
menunjukkan kesuksesan kita masing – masing. Amin”, kataku dalam hati penuh
harapan untuknya. Di kotak bngkisan itu ternyata ada surat, namun karena waktu
aku belum sempat membukanya dan kubiarkan saja tetap ditempatnya.
Tes
terakhir telah usai dengan lancar, aku keluar ruangan dengan bernapas lega.
“Terimakasih Tuhan, engkau melancarkan semuanya”. Tante Ida dan pakdhe Darma, ternyata
suda menungguku di depan ruangan tes. Aku segera berjabat tangan dengan mereka
dan kita sama – sama pulang. Karna kelelahan menjalani tes selama 6 jam, aku
langsung saja merebahkan tubuhku di kasur empuk kamarku. Ku pejamkan mataku dan
mulai menyusuri dunia mimpi yang sangat aku sukai. Tapi, tiba – tiba saja
ingatanku tertuju pada miniatur pesawat terbang dari Rama. Ku buka kembali
bingkisan itu dan ku ambil secarik kertas 2 lembar berwarna biru muda. Ku buka
pelan, tulisannya sangat rapi dengan tinta hitam yang pekat, sepertinya ini adalah
tulisan tangan Rama.
Hai, Dhuha....
Bagaimana kabarmu?
Mungkin saat kamu membaca surat ini kamu sudah tau kalau aku tidak berada di
Pulau Dewata, yang katamu itu dalah Pulau Senja. Pertama kali aku melihatmu,
aku sidah kagum dengan pesona paras ayumu. Aku bertanya – tanya, apa benar kamu
orang Bali? Dan ternyata kudapati bahwa kamu adalah seorang Jawa tulen, yang
hanya merantau di Pulau tetangga sama sepertiku. Aku sama sekali tidak pernah
tau bagaimana jalan pikiranmu, aku hanya mengetahui tentangmu apa yang sudah
kamu katakan padaku. Kamu sangat mencintai senja, kamu ingin menjadi seorang
perwira polisi dan menegakkan kebenaran di negerimu yang indah ini, kamu adalah
seorang muslimah yang membuka mata hatiku bahwa islam itu benar – benar sangat
agung. 10 bulan aku kenal kamu dan bertemu kamu, aku memahami saat itu kamu
memang sahabatku dan aku hanya berpikir kelak nanti kita bertemu dengan
segenggam mimpi yang terwujud dan kamu bukan lagi menjadi sahabatku.
Entah karena apa aku
menjadi sangat bersemangat mengejar mimpiku setelah aku bertemu denganmu. Kamu
dan senja di pantai Arjuna sore itu memberiku pelajaran bahwa hidup bukanlah
mimpi yang hanya sekedar menjadi bunga tidur dan lenyap begitu saja. Tapi hidup
adalah seperti mimpi di senja hari yang esok pagi akan terbangun dan menjadi
nyata kembali. Kamu yang mengajarkanku bagaimana harus optimis dan mengejar
mimpi – mimpi yang menurut kita adalah hal tabu yang tak pernah terwujud.
Oh, ya. Aku sduah
menjalani pendidikan di sekolah penerbangan Curug, mungkin kamu tahunya aku
masih daftar. Tapi sebenarnya aku sudah diterima sejak aku belum lulus sekolah,
karena tesnya sudah jauh – jauh hari. Dan aku harap kamu juga menjadi polwan,
seorang perwira polisi seperti apa yang kamu harapkan. Aku akan menemuimu
selepas pendidikanku dan aku akan terbang sendiri ke Bali, mengejar seorang
wanita senja yang berjilbab dan calon perwira polisi. Tunggu aku Dhuha
Sahabatmu
Rama.....
Aku
tersenyum membaca surat dari Rama, hatiku berbunga tapi aku juga bingung, apa
maksud dari kalimat “tunggulah aku”. Ah sudahlah, saat ini mungkin hanya doa
yang bisa ku panjatkan. Agar aku bisa lolos tes polisi dan menjadi apa yang aku
inginkan, supaya nanti saat bertemu Rama, mimpi yang menjadi kenyataan itu bisa
aku tunjukkan ke dia.
Gemuruh
deburan ombak pantai Arjuna membawaku kembali ke suasana saat aku bersama Rama.
Pekatnya awan hitam membuat kemilau senja tak terlihat dengan jelas. Apa ini?
Pertanda buruk apa baik. Tapi tetap dalam hatiku aku akan terus berharap dan
menanti sinar senja hingga ia muncul dan menerpa wajahku ketika aku melihatnya.
Sama seperti harapanku, menanti mimpi – mimpi yang akan menjadi kenyataan
dengan usaha, penantian, dan doa yang terus terucap pada Tuhan.
SEKIAN